Aug/091
equilibrium factor
sepercik cahaya melesat keujung dunia
kelebat memicingkan mata
cahaya itu membelahku dengan sangat tidak rata
sakit tak terkira terpecah belah ku dibuatnya
ketika waktuku lewat dan tiba aku tak pernah merasakanNya
ketika ku berpaling ke depan, belakang, samping kanan dan kiri, aku mulai merasakanNya
ada buih akar tertinggal disana, yang selalu tumbuh
ada pulih bakar merona disana, yang selalu mengaduh
kegaduhan itu pun jawaban dari kesemuaNya
ada kilat cahaya meracau ,
kalau jawaban kekacauan itu lah ketidakkacauannya,
pasti
ada malaikat bersuara parau,
kalau jawaban kehidupan itulah pertanyaannya,
nanti
ilmu langit tak terjangkau
untuk mencapai ilmu langit itu, aku harus tersambar cahaya itu
dan melesat ketika aku terbakar oleh panas dan terangnya cahaya itu
aku sampai pada titik kosong dan titik diam, dimana siapapun jadi hilang
aku sendiri, dan menghadapi matahari itu
sendiri, kata matahari itu berkata
sendiri, kata matahari itu tak terbata
sendiri, kata matahari itu berbata membentuk satu bangunan kokoh
hingga bangunan itu teratur, dan terbentuk dari ketidak beraturan secara alami
terlalu indah, terlalu indah, terlalu indah bahasa itu.
sendiri, kata matahati itu berkata
sendiri, kata matahati itu tak terbata
sendiri, kata matahati itu terbata juga membentuk satu tembok keyakinan agung hingga mendarah daging kembali berulang kali
hingga tembok itu pun terbentang lurus dan lebar, dan bisa selalu menempatkan dari yang tidak pada tempatnya
terlalu indah, terlalu indah, terlalu indah bahagia itu.
untuk diraih untuk diperjuangkan
untuk dibela
untuk dipertahankan
untuk mu
untuk ku
untuk orang tuamu
untuk keturunanmu
untuk kamu semua pun
hal itu berlaku berambu pada kamu aku kamu aku kamu aku
bagai nomor lotre yang selalu terpampang dan dijajakan tiap penjaja seks di pinggir jalan
yang menawarkan segala keindahan , meski ada yang lebih indah lagi kau temui
NOMOR CANTIK! NOMOR CANTIK! NOMOR HOKI! NOMOR HOKI!
kata penjaja sex elektronik pulsa itu.
kita semua akan menengok, dikarenakan atraksi itu
ketika melihat atraksi itu,
apakah kau?apalah kau?
sudahlah
kau hanya
sama
seperti
aku
dan
mereka
hanya
saja
kau
selalu
mencari
arti
dan
tak
pernah
lelah
tuk
mencari
sehingga
keselarasan
itu
ada
dengan
sendirinya
kita
hanya
bisa
berusaha
sekuat
kita
dan
CAMKAN!
wahai
dunia
CAMKAN!
wahai
manusia
dari mamevebumayusauneplu
dari mejikuhibiniu
dari segala dimensi, galaksi yang ada di tata surya maupun ruang tak terbaca
kau kan rela dan merelakan
disitulah kau akan mencerca hidupmu yang nyaman
disitulah kau akan tertawa sakitmu
disitulah,
kau hidup, dan matiku
aku disini, ingin mati dan hidup dan mati dan hidup dan mati
ITU SAJA!!!!!
aku disini, aku ingin selalu berubah lebih baik
TENTU SAJA!!!!!
aku disini, peminjam dari para tulang yang mati tertinggal
ITU SAJA!!!!!
aku!!!!! bukan kamu!!!!!tapi sayang!!!!!aku menculikmu!!!!!
aku pun mengerti, kau kan mengerti, mengapa harus dibukukan kata-kataku iniĀ sehingga terlupakan di masa kini
dan
dikenang
di kemudian hari
canda tawa sakit bahagia beradu domba, disanalah aku ada
dan
dia
Aug/090
alora
bumbung awan melambung tinggi lesatkan arah
pisahkan oleh lilitan angin semilir
lumbung-lumbung hatiku terperosok diantara bintang-bintang
tergerak lenggang berlarian mengitarinya
pupus daun ronaku yang dulu lembar perlembar semburat
hilang tuk kejar gempita malam meraba sunyi
putus sudah ranting yang ramai dengan cabang meronta
sirna perlahan seiring lembar daun yang baru diikuti ukiran kayu tak berbentuk
gelak tawa mengitariku perlahan
canda ria mencemoohku lambat laun
lembut dan sakitku dihadapkan bangunan kokoh semu di pusat kota kelahiranku
disini darah desaku menjanin dan terjalin kasar di urat perkotaan
pun, kelembutan itu selalu kucari, meski kesunyianku kan kutempa tuk hadapi hari-hari tak pasti
barisan besi dan beton itu menghadang
hingga dedaunan tak mampu tuk berdiri tegak menghidupi tanah
kerat karat itu melangsat, meringkuk dibawah kawat rimba liar
lihatlah sekelilingmu, pandang dan rasakan hawa panasmu itu
ukir nada sendu dalam nadi ini, hisap pedih ini nanti : pasti
Aug/091
Gerbong Rindu
desak angin membelai kening,
bak mempelai berbaju rindu menapaki samudra rupa
kunang-kunang hinggap di kepala rumput liar
julangkan kuasa di tanah gembur terlupakan di pinggir desa
disini kereta rindu, disini gerbong kalbu terpendam sinis
andaikata senja senyumkan kata,
mungkin kan kulayangkan ria didada
yang juga lantahkan asa tertata beku
andaikata mentari kibarkan lembut cahaya,
kan kupandang biasnya hingga prisma tunggal itu
tuk tertelungkup di telapak tanganku.
@Matarmaja, 28 juli 2009
Jul/092
Sanapan Pagi
kokoh beton itu tak membuat jeritan kami terkulai lemah
kami hitam, kurus, lusuh dan tak terawat
itu katamu!
itu katamu!
inilah kataku wahai beton!
kami pun dirikan gerobak diatas onthel kami
hiasi hidup tuk berdarah dengan nadi kami
yang tak terasa nyaman bernafas dibumi
kami pun dirikan kios sederhana didepan rumah kami
tuk sambung pesona kesederhanaan di era globalisasi terpaksa ini
kami pun dirikan kekerasan dalam berbicara di lingkungan kami
bukanlah hanya hujatan tapi peringatan tuk saling mengerti
kalian bilang aku hanya sampah!
dasar pengotor lingkungan!
memang aku penyumbat sampah! mungkin,
tapi aku tak pernah membunuh macam kalian!
tak pernah pula aku menancap golok
maupun menikam dari balik hitamputihnya seseorang
pun, aku tak pernah dengki
tuk lugaskan suaraku yang sederhana ini
(DepepNEt inspired by pak cimol di bawah tol juanda, 18,07,2009)
Jul/092
teraskota pinggiran
kayu-kayu sederhana guratkan pedih perkotaan
kadang menyiksa kadang nelangsa kadang terpaksa
susunan itu kokoh terpaku oleh letih keringat sang bapak
dan dipadati oleh ibu anak, yang juga menjadi mangsa kota
kayu-kayu sederhana lagukan sedih kota pinggiran
lapar dan dahaga menyinari kumpulan hati keluarga
ayah pun keliling jajakan siomay bergerobak rindu
tinggalkan keluarga tuk hidupi darah daging sendiri
bola, robot, mobil, sepeda, kata sang mampu
kami tak ada apa-apa kata sang tak mampu:menjerit
hanya alamlah yang tak menipu
bermainlah aku dengan sekitarku:hiburnya
(Jakarta Selatan, 26 Juni 2009 )
Jul/090
stasiun embun
picingan mentari pagi mengintip
awan pun mulai menarikan lengannya
diiringi percikan matahari itu
gulirkan irama gelombang badannya
nuansa lusuh nan panas itu pun terus lantang
kumandangkan detik-detik penantian
dimana anak penunggu kereta menunggu
setia menanti santapan berlabuhnya besi tua bermoncong masinis
lautan asap, lautan terik lautan hati
berhiaskan pekerja maupun pedagang
tebarkan rona tebarkan makna
dimana sentuhan pagi memangsa
dimana sentuhan stasiun kereta berada
dimana diriku bercinta dengan suasana itu:juga
(stasiun jakartakota 14 Juli 09) *sempat salah tulis stasiun senen.. hohoho
Jul/090
lolong

lampu taman dolog & rembulan
susuri surabaya , tanah pahlawan tanah sura tanah baya
tapaki rona ronta , tanah pahlawan tanah sura tanah baya
hiasi lampu taman hiasi rembulan hiasi patung berilustrasi biru lampu taman
taman dolog taman dolog taman monolog
monolog melolong meronta ingin bersimbah tuk sepi ramai malamnya
Jun/090
niteyboesway
Malam sepi kubunuh diriku sendiri
jalanan sepi jalanan mati kupatri diri sendiri tuk menyendiri...
jembatan busway yang bersih pun menemaniku
ihwal sunyi ini ragu tertumbun, ragu tuk tertimbun, ragu tuk terbangun
Namun kubangun rasa ini untuk melihat indahnya sisi malam ini...
Indahnya malam indahnya temaram...
buram-buram saja lampu-lampu itu...
@jembatan busway PIM, Jakarta
Jun/090
behind the window
Siang dibawah terik mentari, awan berlari mengejar angin gelombang
Dibawah atap renung disisi jendela itu terbesit sedikit cahaya
entah apa ratapan itu, entah apa pikiran itu aku pun tak tahu itu siapa
Mungkin ini hanya pertemuan, dimana pertemuan itu bukanlah rendesvouz, melainkan pertemuan dalam pertemanan yang baru.
Normalkah aku? Benarkah itu? Mampukah aku?

