Manusia, Agama dan Adat Istiadat | arik.web.id

Homepage » Ceritaku, Islam » Manusia, Agama dan Adat Istiadat

Manusia, Agama dan Adat Istiadat

January 16th, 2012 0 <:<<<

nasi tumpeng adat dan agama islamLoh..Loh… Kok gambarnya malah nasi tumpeng?? ga nyambung nih.. yaudah disambung-sambungin aja ya.. oke, langsung ke pokok bahasannya aja ya.. soal makanan nanti aja :-D

Sebenarnya tulisan ini adalah tugas dari Mata kuliahnya Pak Junaidi Idrus, S.Ag., M.Hum hmm dosen yang paling keren n patriotisme di kampus ini. bayangkaaan…tiap mau masuk kelas kita disuruh nyanyiin lagu Indonesia Raya gan…! wow.. wah kalo diceritain ntar sampek malem gan. oke lanjut saja ya..

Adat atau Tradisi dalam Beribadah Setiap komunitas selalu mempunyai adat dan tradisi khas sesuai dengan peradaban dan falsafah hidup mereka. Adat dan tradisi tersebut lahir sebagai akibat dari dinamika dan interaksi yang berkembang di suatu komunitas lingkungan masyarakat. Oleh karenanya, bisa dikatakan, adat dan tradisi merupakan identitas dan ciri khas suatu komunitas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adat atau tradisi bermakna kebiasaan perilaku yang dijumpai secara turun-temurun. Karena bermula dari kebiasaan dan itu merupakan warisan dari pendahulu, maka akan terasa sangat ganjil ketika hal itu tidak boleh dilakukan atau dilakukan tapi tidak sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.

Allah SWT menciptakan manusia dalam kemajemukan yang terdiri atas suku, bangsa dan tersebar di berbagai tempat. Kemajemukan tersebut melahirkan adat dan tradisi yang sangat beragam. Namun demikian manusia dibekali software yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yaitu akal. Dengan akal inilah manusia menjadi makhluk yang sangat terhormat dan diharapkan bisa menjadi khalifah di muka bumi serta mampu menciptakan kreasi-kreasi baru yang membawa kemaslahatan bagi sesama. Dengan kesempurnaan yang dimilikinya, Allah SWT ‘menaruh harapan’ bahwa mereka mampu melakukan yang terbaik di muka bumi. Semua itu sebagai amanah Allah SWT yang harus kita manifestasikan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Yang Maha Esa.

Masyarakat Indonesia memiliki beragam adat dan tradisi yang berbeda dengan negara-negara lain, bahkan dari satu daerah ke daerah yang lain. Beragamnya agama, bahasa dan budaya adalah keniscayaan dalam konteks keindonsiaan.

Ketika masuk ke Indonesia lewat Walisongo, Islam begitu ramah menyapa umat. Tidak ada tindakan anarkis dan frontal melawan tradisi. Kelihaian Walisongo mengakomodasi budaya setempat ke dalam ajaran-ajaran Islam, menampakkan hasil yang luar biasa. Para masyarakat yang sebelumnya menjadi penganut kuat ajaran dinamisme dan animisme, pelan-pelan berbondong-bondong menghadiri majelis-majelis yang diselenggarakan Walisongo. Mereka hadir bukan karena dipaksa, tapi karena sadar bahwa ajaran Islam sangat simpatik dan ‘patut’ diikuti.

Itu hasil kreasi yang patut diapresiasi. Islam adalah agama yang mampu berakumulasi, bahkan hampir bisa dikatakan tak pernah bermasalah dengan budaya setempat. Bahkan budaya bisa didesain ulang atau dimodifikasi dengan tampilan yang elegan menurut syara’ dan lebih berdayaguna demi meningkatkan kasejahteraan hidup. Dengan demikian, kehadiran Islam di tengah masyarakat, dimanapun dan sampai kapanpun, akan selalu menjadi rahmatan lil alamin.

Islam Mengakomodasi Adat

Adat atau tradisi yang dimaksud di sini adalah adat yang tumbuh dan berkembang disuatu komunitas dab hal itu –secara prinsip- tidak terdapat dalam ritual syariah Islam, baik pada masa Rasulullah SAW.

Adat atau tradisi semacam ini adalah sah-sah saja dan tak masalah. Tentunya dengan catatan, adat atau tradisi tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam, mempunyai tujuan mulia dan disertai niat ibadah karena Allah SWT. Dalam Kaidah fikih dikatakan, “al-Adah Muhakkamah ma lam yukhalif al-Syar’” (Tradisi itu diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariah).

Sahabat Abdullah bin Abbas mengatakan: Setiap sesuatu yang umat Islam menganggap baik, maka menurut Allah baik juga, dan yang mereka anggap buruk, maka buruk juga manurut Allah” (Diriwayatkan Al-Hakim)

Ia juga berpesan: Sesungguhnya Allah melihat hati hambanya, selalu ditemukan hati Muhammad SAW, sebaik-baiknya hati hambanya, lalu memilihnya untuk-Nya, dan mengutusnya. Lalu melihat hati hambanya selain Muhammad, dan ditemukan beberapa hati sahabatnya, lalu menjadikannya menteri bagi nadi-Nya. Setiap suatu yang umat Islam menganggap baik, maka menurut Allah baik juga, dan yang mereka anggap buruk, maka buruk juga menurut Allah” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Dalam Hasiyah as-Sanady disebutkan, “Bahwa sesungguhnya sesuatu yang mubah (tidak ada perintah dan tidak ada larangan) bisa menjadi amal ibadah selama disertai niat baik. Pelakunya mendapatkan imbalan pahala atas amal tersebut sebagaimana pahalanya orang-orang yang beribadah”. (Hasiyah as-Sanady, Jilid 4, hal.368)

Imam Syafi’i memberikan batasan ideal tentang adat atau tradisi ini, menurutnya, selama adat atau tradisi itu tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariat, itu hal terpuji. Artinya, agama memperbolehkannya. Sebaliknya, jika adat atau tradisi tersebut bertentangan dengan dasar-dasar syariat, hal itu dilarang dalam Islam.

Menurut Imam Syafi’i yang dinukil oleh Baihaqi dalam kitabnya Manakip As Syafi’i lil Baihaqi:  Hal baru (bid’ah) terbagi menjadi 2 (dua) macam. Adakalanya hal baru itu bertentangan dengan Al-Qur’an, as-Sunnah, al-Atsar, atau ijma Ulama. Itulah bid’ah yang tercela. Sedangkan hal baru yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama tersebut adalah bid’ah yang terpuji. (Fathul Bari, karya Ibn Hajar, jilid 20, hal:330).

Memang sulit meninggalkan adat istiadat (kacang yang lupa kulitnya?). Kita harus menyikapi secara rasional, tidak muluk-muluk hidup dilingkungan sendiri, hidup dengan istiadat tapi harus memperhatikan aturan-aturan agama yang ada. Kebanyakan orang berpikiran negatif dan malah mengabaikan peraturan-peraturan yang ada. Kembali memaknai arti musyrik dalam kamus bahasa Indonesia, kita harus bisa membedakan mana yang adat istiadat dan mana yang musyrik. “al-Adah Muhakkamah ma lam yukhalif al-Syar’” (Tradisi itu diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariah).

Dan akhirnya saya punya prinsip sendiri, Saya mengikuti orang tua saya sejak kecil hingga besar. Saya percaya apa yang diajarkan orang tua selalu benar dan tidak melanggar peraturan-peraturan/norma-norma agama dan norma hukum yang ada. Karena saya dibesarkan dilingkungan ini, jika saya tidak mematuhi adat istiadat setempat itu artinya saya kita tidak sopan diwilayah sendiri dan tidak ngajeni nenek kita dan jika tidak ngajeni nenek kita itu artinya tidak ngajeni ibu/guru kita, dan jika tidak ngajeni ibu kita berarti kita durhaka, jika durhaka Allah murka kepada kita.. serba salah juga.

Intinya, selama adat istiadat tidak menimbulkan keyakinan bahwa jika tidak dilaksanakan akan mendapatkan/menimbulkan musibah dan sebagainya, saya kira tidak ada masalah dan itu bukan musyrik yang disebutkan dalam kamus bahasa Indonesia (Kata ustadz Sholeh Mahmud). Tapi perlu diperhatikan juga kita harus bisa membatasi antara agama dan adat istiadat serta berhati-hati. Adat istiadat hanya sebuah sarana dan agama pedoman hidup. Ini menurut pemikiran saya..

Mari berpikir positif, mendengarkan kata-kata yang baik dari orang tua kita, mematuhi peraturan negara/lingkungan yang ada, mematuhi peraturan-peratuaran agama yang ada, niscaya akan mendapatkan hidup yang lebih baik, selamat dunia dan akhirat Amin…

Masukkan Email Anda

Silakan masukkan email anda di bawah, dengan memasukkan email maka Anda akan menerima update berita dari arik.web.id langsung ke email Anda secara rutin. Gratis lho.. :

Jangan lupa konfirmasi email subcribenya ya..

adat kebiasaan melahirkan ∞ adat istiadat indonesia ∞ adat istiadat di indonesia ∞ adat kebiasaan yg sejalan dengan islam ∞ istiadat masuk kelas ∞ apa adat dan tradisi masyarakat indonesia? ∞ agama dan tradisi ∞ agama dan adat istiadat di indonesia ∞ apakah adat istiadat bertentangan dengan islam ∞ apakah agama dan adat isti adat bertentangan ∞ bagaimana menyikapi adat istiadat yang tidak sejalan dengan norma agama ∞ adat budaya menurut rasulullah ∞ kita harus bisa membedakan antara ajaran agama adat dan budaya ∞ macam macam budaya disa ∞ macam-macam adat istiadat di indonesia ∞ macam-macam nasi tumpeng ∞ manusia dan adat istiadat ∞ orang tua selalu benar menurut agama ∞ tradisi atau adat istiadat bangsa indonesia ∞ agama dan adat ∞ ∞