TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA PADA PERGURUAN TINGGI DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA | arik.web.id

Homepage » Islam » TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA PADA PERGURUAN TINGGI DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA PADA PERGURUAN TINGGI DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

January 23rd, 2012 0 <:<<<

Sebenarnya tulisan ini adalah Tugas saya dari pak Junaidi S.Ag, S.Hum. Tulisan ini saya posting karena harapan saya agar adik-adik mempergunakan sebagai referensi. Boleh di copy asal di edit-edit lagi ya… Judulnya memang agak terkesan pasaran, karena pada waktu itu sudah di tentukan judulnya ma pak dosen (nyebelin banget ya). Oke deh langsung saja simak, berikut adalah tugas mata kuliah Agama Islam saya dengan judul “TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA PADA PERGURUAN TINGGI DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

———————————————————————————————————–———————————–

TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA PADA PERGURUAN TINGGI DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA
Sebuah Tinjauan Pemikiran Politik

Dosen : Junaidi S.Ag, S.Hum

logo amikom

Nama    : Arik Iswanto
NIM    : 11.11.4765
Kelas    : 11-S1TI-03
Jurusan    : Teknik Informatika

SEKOLAH TINGGI TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM
YOGYAKARTA
2012

———————————————————————————————————–———————————–

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT Dzat Yang Maha kuasa yang telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya untuk kemaslahatan makhluknya.
Manusia adalah makhluk Allah yang dimuliakan dan dijadikan-Nya sebagai khalifah dimuka bumi dengan tugas pokok mengabdikan diri kepada Allah SWT.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyaat (51) :56)
Agar manusia mampu menjadi hamba Allah yang ideal dengan tugas pokoknya mengabdikan diri, Allah sebagai Dzat yang maha bijaksana telah menurunkan syari’at Islam yang bersumber kepada Al-Quran dengan mengutus Muhammad SAW sebagai Rosul-Nya untuk menjelaskan kandungan syari’at Islam dan sekaligus memberikan contoh nyata bagaimana mengaflikasikan itu semua dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Studi Buku yang berjudul “TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA PADA PERGURUAN TINGGI DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA” ini diharapkan siapapun yang mempelajarinya akan mendapatkan pengetahuan, pemahaman dan semangat yang kuat untuk terus memacu diri agar menjadi hamba Allah SWT yang selalu melakukan pengabdian kepada-Nya dengan ideal, karena dalam buku ini akan dijelaskan tentang al-Islam sebagai pedoman, Allah SWT sebagai pembuatnya, Al-Quran sebagai dasar, Rasulullah SAW sebagai penjelas dan akan dijelaskan pula tentang hakikat manusia sebagai makhluk Allah SWT yang terdiri dari ruh dan jasad yang keduanya harus dioptimalkan dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah SWT.

Penyusun,

Arik Iswanto

BAB I
PEMBAHASAN

1.1    Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi
Peran penting agama atau nilai-nilai agama dalam bahasan ini berfokus pada lingkungan lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Salah satu mata kuliah dalam lembaga pendidikan di perguruan tinggi, yang sangat berkaitan dengan perkembangan moral dan perilaku adalah Pendidikan Agama. Mata kuliah Pendidikan Agama pada perguruan tinggi termasuk ke dalam kelompok MKU (Mata Kuliah Umum) yaitu kelompok mata kuliah yang menunjang pembentukan kepribadian dan sikap sebagai bekal mahaMahasiswa memasuki kehidupan bermasyarakat.
Mata kuliah ini merupakan pendamping bagi mahaMahasiswa agar bertumbuh dan kokoh dalam moral dan karakter agamaisnya sehingga ia dapat berkembang menjadi cendekiawan yang tinggi moralnya dalam mewujudkan keberadaannya di tengah masyarakat.Tujuan mata kuliah Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi ini amat sesuai dengan dasar dan tujuan pendidikan nasional dan pembangunan nasional. GBHN 1988 menggariskan bahwa pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila “bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, terampil serta sehat jasmani dan rohani… dengan demikian pendidikan nasional akan membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”. Kualitas manusia yang ingin dicapai adalah kualitas seutuhnya yang mencakup tidak saja aspek rasio, intelek atau akal budinya dan aspek fisik atau jasmaninya, tetapi juga aspek psikis atau mentalnya, aspek sosial yaitu dalam hubungannya dengan sesama manusia lain dalam masyarakat dan lingkungannya, serta aspek spiritual yaitu dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta.
Pendidikan Tinggi merupakan arasy tertinggi dalam keseluruhan usaha pendidikan nasional dengan tujuan menghasilkan sarjana-sarjana yang profesional, yang bukan saja berpengetahuan luas dan ahli serta terampil dalam bidangnya, serta kritis, kreatif dan inovatif, tetapi juga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berkepribadian nasional yang kuat, berdedikasi tinggi, mandiri dalam sikap hidup dan pengembangan dirinya, memiliki rasa solidaritas sosial yang tangguh dan berwawasan lingkungan. Pendidikan nasional yang seperti inilah yang diharapkan akan membawa bangsa kita kepada pencapaian tujuan pembangunan nasional yakni “…masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual.

1.2    Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi
“Pendidikan karakter sebagai pilar kebangkitan bangsa” dengan subtema “raih prestasi junjung budi pekerti”, karena pendidikan adalah proses pembudayaan dan kebangkitan merupakan awal proses,sehingga keduanya memandu proses pembentukan karakter atau jati diri bangsa Indonesia.
Pengaruh pendidikan Perguruan Tinggi dan masyarakat semakin menguat bersamaan dengan bertambahnya usia anak. Pendidikan karakter adalah landasan bagi budaya akademik, karena ilmu pada prinsipnya dapat kita pandang dalam perspektif moral dan sosial, sehingga akan terkait langsung dengan perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab pendidikan perPerguruan Tinggian dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi, tapi juga tanggung jawab orangtua, keluarga, dan masyarakat. Di dalam ruang lingkup lokal, orangtua dan keluarga memiliki peran kuat pada usia awal dan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia anak.
Norma kegiatan akademik yang dirujuk di Indonesia bersubyek kepada mahaMahasiswa yang melakukan proses pembelajaran. Wujudnya ialah kegiatan kurikuler,ko-kurikuler (kegiatan kemahaMahasiswaan yang berbasis kepada bidang profesi yang dipelajari),dan ekstrakurikuler (kegiatan kemahaMahasiswaan yang tidak terkait langsung dengan profesi yang dipelajarinya). Proses pembelajaran ini merupakan kegiatan akademik yang berlandaskan budaya akademik menuju nilai utama dan etika akademik. Beban-beban kegiatan akademik tersebut seutuhnya harus proporsional, produktif, dan positif.
Sebagai penutup, pendidikan adalah “soft power” jika dilandasi karakter nilai-nilai luhur.

BAB II
PENDEKATAN

2.1 Pendekatan Karakter di Lingkungan Pendidikan
Pendekatan Karakter Mahasiswa di Lingkungan Pendidikan Perguruan Tinggi yaitu berbagai upaya yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi dalam rangka pembentukan karakter Mahasiswa. Istilah yang identik dengan pembinaan adalah pembentukan atau pembangunan. Terkait dengan Perguruan Tinggi, sekarang lagi digalakkan pembentukan kultur Perguruan Tinggi. Salah satu kultur yang dipilih Perguruan Tinggi  adalah kultur akhlak mulia. Dari sinilah muncul istilah pembentukan kultur akhlak mulia di Perguruan Tinggi.
Pengalaman Nabi Muhammad membangun masyarakat Arab hingga menjadi manusia yang berakhlak mulia (masyarakat madani) memakan waktu yang cukup panjang. Pembentukan ini dimulai dari membangun aqidah mereka selama kurang lebih tiga belas tahun, yakni ketika Nabi masih berdomisili di Makkah. Selanjutnya selama kurang lebih sepuluh tahun Nabi melanjutkan pembentukan akhlak mereka dengan mengajarkan syariah (hukum Islam) untuk membekali ibadah dan muamalah mereka sehari-hari. Dengan modal aqidah dan syariah serta didukung dengan keteladanan sikap dan perilaku Nabi, masyarakat madani (yang berakhlak mulia) berhasil dibangun Nabi yang kemudian terus berlanjut pada masa-masa selanjutnya sepeninggal Nabi.
Michele Borba juga menawarkan pola atau model untuk pembudayaan akhlak mulia. Michele Borba menggunakan istilah membangun kecerdasan moral. Dia menulis sebuah buku dengan judul Building Moral Intelligence: The Seven Essential Vitues That Kids to Do The Right Thing,2001 (Membangun Kecerdasan Moral: Tujuh Kebajikan Utama Agar Anak Bermoral Tinggi, 2008). Kecerdasan moral, menurut Michele Borba (2008: 4), adalah kemampuan seseorang untuk memahami hal yang benar dan yang salah, yakni memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut, sehingga ia bersikap benar dan terhormat. adalah sifat-sifat utama yang dapat mengantarkan seseorang menjadi baik hati, berkarakter kuat, dan menjadi warga negara yang baik.
Bagaimana cara menumbuhkan karakter yang baik dalam diri anak-anak disimpulkannya menjadi tujuh cara yang harus dilakukan anak untuk menumbuknan kebajikan utama (karakter yang baik), yaitu empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, dan keadilan. Ketujuh macam kebajikan inilah yang dapat membentuk manusia berkualitas di mana pun dan kapan pun. Meskipun sasaran
buku ini adalah anak-anak, namun bukan berarti tidak berlaku untuk orang dewasa, termasuk para Mahasiswa di SD hingga SMA. Dengan kata lain tujuh kebajikan yang ditawarkan oleh Michele Borba ini berlaku untuk siapa pun dalam rangka membangun kecerdasan moralnya. Dalam salah satu bukunya, 100 Ways to Enhance Values and Morality in Schools and Youth Settings (1995), Howard Kirschenbaum menguraikan 100 cara untuk bisa  7meningkatkan nilai dan moralitas (karakter/akhlak mulia) di Perguruan Tinggi yang bisa dikelompokkan ke dalam lima metode, yaitu:
1)    Inculcating values and morality (penanaman nilai-nilai dan moralitas);
2)    Modeling values and morality (pemodelan nilai-nilai dan moralitas);
3)    Facilitating values and morality (memfasilitasi nilai-nilai dan moralitas);
4)    Skills for value development and moral literacy (ketrampilan untuk   pengembangan nilai dan literasi moral; dan
5)    Developing a values education program (mengembangkan program pendidikan nilai).
Dari pendapat Kirschenbaum ini maka guru pendidikan agama termasuk para guru yang lain bersama-sama dengan Perguruan Tinggi perlu meningkatkan kualitas pembelajaran di Perguruan Tinggi. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah pembinaan karakter Mahasiswa melalui pemaksimalan peran pendidikan agama. Guru agama bersama-sama guru-guru lain perlu merancang pembelajaran agama di kelas dan di luar kelas yang dapat memfasilitasi Mahasiswa agar dapat membiasakan karakter atau akhlak mulia.
Sementara itu, Darmiyati Zuchdi menekankan pada empat hal dalam rangka penanaman nilai yang bermuara pada terbentuknya karakter (akhlak) mulia, yaitu inkulkasi nilai, keteladanan nilai, fasilitasi, dan pengembangan keterampilan akademik dan sosial (Zuchdi, 2008: 46-50). Darmiyati menambahkan, untuk ketercapaian program pendidikan nilai atau pembinaan karakter perlu diikuti oleh adanya evaluasi nilai. Evaluasi harus dilakukan secara akurat dengan pengamatan yang relatif lama dan secara terus-menerut (Zuchdi, 2008: 55). Dengan memadukan berbagai metode dan strategi seperti tersebut dalam pembelajaran pendidikan agama di Perguruan Tinggi, maka karakter Mahasiswa dapat dibina dan diupayakan sehingga Mahasiswa menjadi berkarakter seperti yang diharapkan.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pendidikan karakter sangatlah diperlukan bagi siapa saja dalam kehidupan sehari-hari, apalagi bagi mahaMahasiswa yang nota bene adalah calon pemimpin dan generasi penerus bagi kehidupan bangsa dan negara yang lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan karakter ini akan lebih baik apabila ditumbuh kembangkan melalui keteladanan, pembelajaran, dan terutama pembiasaan dalam segi agama.
Saran
Model yang seharusnya dikembangkan untuk pengembangan karakter di Perguruan Tinggi berbasis Pendidikan Agama adalah: (1) Pendidikan Agama hendaknya menjadi basis utama dalam pengembangan karakter bagi Mahasiswa di Perguruan Tinggi baik SD maupun SMP. Ajaran dasar agama mulai dari keimanan (aqidah), ritual (ibadah dan muamalah), serta moral (akhlak) harus benar-benar ditanamkan dengan baik dan benar kepada Mahasiswa agar tidak ada lagi sikap dan perilaku Mahasiswa yang menyimpang dari ketentuan agamanya; (2) Sebenarnya karakter atau akhlak sebagai hasil dari proses seseorang melaksanakan ajaran agamanya.Karena itu, harusnya karakter akan terbentuk dengan sendirinya, jika seseorang telah menjalankan ajaran agamanya dengan baik.
Jadi, Pendidikan Agama harus benar-benar diajarkan secara efektif kepada Mahasiswa, jangan terbatas pada nilai kognitif saja, tetapi juga menyentuh sikap dan perilaku agama; dan (3) Hal penting yang perlu diperhatikan dalam rangka pembinaan karakter yang efektif di Perguruan Tinggi adalah visi, misi, dan tujuan Perguruan Tinggi, kebersamaan, ada program-program yang jelas dan rinci, pelibatan semua mata pelajaran dan semua guru, ada dukungan sarana prasarana, dan perlu ada tim khusus

DAFTAR PUSTAKA
Asaasiyyaat ats-Tsaqafah al-Islamiyyah, Dr. Abdurrahman Al-Gharyani
Birrul walidain, Ahmad Isa ‘Asyur
Fathul Majid, Syekh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab
Ushulud da’wah, Dr. Abdul Karim Zaedan
Ushulul iman, Wizaratus syu’unil Islamiyyah wal auqaf wad da’wah wal irsyad, al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Su’udiyyah
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Mellenium Baru Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999
Abdul Majid & Dian Andayani 2004. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung : Rosdakarya.
Simon Philips, Refleksi Karakter Bangsa (2008:235), Doni Koesoema A (2007:80)
Zuchdi, Darmiyati. 2008. Humanisasi Pendidikan: Menemukan Kembali Pendidikan yang Manusiawi. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Masukkan Email Anda

Silakan masukkan email anda di bawah, dengan memasukkan email maka Anda akan menerima update berita dari arik.web.id langsung ke email Anda secara rutin. Gratis lho.. :

Jangan lupa konfirmasi email subcribenya ya..

tantangan pendidikan agama pada perguruan tinggi dalam membangun karakter bangsa ∞ manfaat kecerdasan moral menurut michele borba ∞ peran pendidikan agama bagi pengembangan karakter bangsa ∞ nilai agama dalam membangun charakter bangsa ∞ pengamalan islam ideal sesuai dengan karakter bangsa indonesia ∞ hakikat manusia menurut pandangan islam(manusia sebagai khalifah dan bertugas menyembah Allah ) ∞ pendidikan agama diperguruan tinggi ∞ membentuk mahasiswa berkarakter menuju kampus madani ∞ pendidikan agama untuk perguruan tinggi ∞ peran agama dalam membentuk moral ∞ peran pendidikan agama bagi penembangan karakter bangsa ∞ peran pendidikan agama dalam pengembangan karakter bangsa ∞ peran pendidikan agama dalam pendidikan karakter ∞ PENGERTIAN PENDIDIKAN MORAL MENURUT ZUCHDI ∞ peran perguruan tnggi dalam pembangunan karakter bangsa ∞ peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter mahasiswa ∞ peran agama bagi pendidikan karakter ∞ peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter ∞ peran agama dalam membentuk karakter bangsa indonesia ∞ peran agama islam dalam pembentukan karakter bangsa ∞ ∞